Sunday, November 8, 2009

Hati-hati ICG spy Amerika.. Fokus utama gerakan Islam..

Sent via BlackBerry from Maxis


From: Aidc Editor <aidceditor@yahoo.com>
Date: Sun, 8 Nov 2009 10:43:04 -0800 (PST)
To: <anwaribrahimdotcom@yahoogroups.com>
Subject: [anwaribrahimdotcom] Hati-hati ICG spy Amerika.. Fokus utama gerakan Islam..

 


Berbicara tentang terorisme atau Islam radikal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari ICG. Apa itu ICG? Dengan melihat website rasmi mereka ditambah dengan web wikipedia dapat difahami secara jelas apa itu ICG.

Secara ringkas, ICG singkatan dari International Crisis Group (ICG) adalah sebuah organisasi bukan kerajaan, badan tanpa keuntungan antarabangsa yang misinya mencegah dan menyelesaikan konflik berbahaya melalui analisis kajian lapangan.

Ketika sesebuah negara dalam krisis, atau kekerasan berskala besar, ICG akan menghantar beberapa team analisis politik ke dalam atau berdekatan dengan daerah yang menghadapi konflik itu.

Kemudian, organisasi ini akan membuat laporan analisis dengan cadangan-cadangan yang ditujukan kepada pemimpin-pemimpin dunia dan organisasi-organisasi. Group ini juga turut menerbitkan newsletter bulanan,dinamakan 'CrisisWatch', yang melaporkan sepintas lalu berkenaan dengan kekerasan yang sedang terjadi di dunia.

Sebagai organisasi yang menghasilkan laporan dan analisis, group ini bekerja dengan banyak negara, organisasi, dan media untuk menerbitkan dan menyebarkan laporan mereka, yang juga diterbitkan dalam lamn web rasmi mereka.

Pejabat pusat Crisis Group terletak di Brussels, mempunyai cawangan di benua Afrika, Asia, Eropah, Amerika Latin dan Caribbean, Timur Tengah dan Afrika Utara. Mereka mempunyai pejabat-pejabat di  Washington DC, New York City, London dan Moskwa, dan juga pejabat setempat di Amman, Belgrade, Beirut, Cairo, Dakar, Dushanbe, Islamabad, Jakarta, Kabul, Nairobi, Bishkek, Port-au-Prince, Pretoria, Pristina, Quito, Seoul, Skopje dan Tbilisi.

ICG juga mempunyai pekerja di lebih dari 40 negara dan wilayah dalam konflik di empat benua. ICG ditaja melalui sumbangan dari Pemerintah Barat, yayasan, dan organisasi, syarikat, serta individu.

Jakarta dijadikan pusat ICG untuk Asia. ICG berada di Indonesia sejak tahun 2000, menjelang deklarasi 'war on terrorism' oleh Presiden Amerika Syarikat (AS) pada September 2001.

Dalam laman rasminya disebutkan bahawa team ICG di Jakarta berfungsi mengeluarkan laporan-laporan dan cadangan mengenai dasar-dasar tentang perkembangan politik di Indonesia, perkembangan otonomi wilayah, perjuangan kaum pemisah di Aceh dan Papua, kekerasan masyarakat dan peranan radikal Islam dengan memfokuskan kepada jaringan Jemaah Islamiyah.

ICG Jakarta telah membuat laporan tentang Aceh, Papua, Maluku, Poso, reformasi, polisi, militer, desentralisasi dan terorisme. ICG telah menyusun beberapa laporan mengenai isu-isu politik, termasuk masalah Aceh, Papua, Maluku, Poso, perombakan dalam undang-undang tubuh Polri (Polis Republik Indonesia) dan TNI (Tentera Nasional Indonesia), serta masalah terorisme yang banyak dipetik oleh media asing dan pemerintah AS.

Dalam organisasinya, ICG di Asia Tenggara yang berpusat di Jakarta diketuai oleh Sydney Jones (Penasihat Kanan) dengan John Virgoe sebagai Pengarah Projek Asia Tenggara.

Sydney Jones pernah dua kali diminta keluar dari Indonesia. Pertama kalinya pada Jun 2004. Sydney Jones, warga negara Amerika Syarikat, pada awalnya dilarang masuk ke Indonesia antara lain disebabkan laporan-laporan yang dibuatnya tentang konflik di beberapa wilayah di Indonesia dianggap bias dan kurang objektif.

"Forum Koordinasi Intelijen Indonesia menilai gerak kerja Sydney Jones bersama beberapa orang Indonesia yang lain telah merugikan bangsa Indonesia kerana mereka 'menjual maklumat' untuk mendapatkan wang," kata Ketua Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono (28 Mei 2004).

Beliau juga menyebut bahawa kehadiran Jones telah merugikan bangsa Indonesia. ICG, bersama NGO lain telah menjual maklumat negara untuk mendapatkan wang (29 Mei 2004).

Bahkan, berpuluh orang dari pelbagai elemen, mahasiswa, dan masyarakat umum tidak puas hati dengan kehadiran mereka dengan mengadakan demonstrasi (23 Juni 2004). Mereka meminta pemerintah mengusir Sidney Jones dan jaringan NGOnya yang telah mengkucarkacirkan Indonesia dan memperdagangkan keburukan bangsa ini demi untuk mendapat keuntungan. Mereka berpihak kepada puak pemisah Aceh dan Papua.

Kemudian,Jones menetap lagi di Indonesia (Jakarta) sejak 22 Julai 2005. Namun, kerana dianggap membahayakan kepada Indonesia, sekali lagi dia diusir keluar pada 24 November 2005.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia(HAM), Hamid Awaludin turut bersuara tentang alasan penahanan Sidney Jones. Dia dianggap mengancam kestabilan keamanan dalam negera.

Penahanan Sidney dilakukan setelah proses evaluasi di bawah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan dan turut melibatkan polis, intelijen dan sebagainya.

"Keputusannya Sidney kembali ditahan dengan alasan keamanan," kata Hamid (28/11/2005). Namun, dunia mengkritik Indonesia dan menuduh penahanan tersebut sebagai kemunduran terhadap demokrasi dan hak hak asasi manusia di Indonesia.

Akhirnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengarahkan agar larangan kegiatan selama setahun bagi penyelidik Amerika Sidney Jones di Indonesia, dimansuhkan (29 November 2005).

Setelah itu, pada Disember 2006, Sidney Jones membawa propaganda AS dan memfitnah Ustaz Abu Bakar Ba'asyir dalam laporannya berkaitan 'Jaringan Terorisme Ponpes Ngruki'. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang menuntut pemerintah untuk mengusirnya kembali kerana lebih merupakan propanganda AS berbanding dengan penyelidikan. Namun, kali ini pemerintah tidak memenuhi tuntutan rakyatnya. Sidney Jones dibiarkan bergerak bebas.

Jadi, apa yang dilakukan selama ini oleh ICG mencerminkan visi dan misinya. Organisasi ini lebih mendokong usaha pemisah di Aceh dan Papua, serta menwar-warkan umat Islam dengan isu terorisme.

Laporan ICG di Indonesia

Pada 12 Disember 2002, ICG mengeluarkan laporan tentang terorisme Indonesia bertajuk "Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates (Jaringan Teroris Indonesia: Cara Kerja Jamaah Islamiyah).

Hal ini menjadikan Indonesia terkenal meskipun tidak ada bukti yang mengesahkan hal tersebut. Dalam laporan tersebut, ICG mengatakan daripada 14 ribu pesantren(madrasah) di Indonesia, terdapat 8900 pesantren yang 'berbahaya'. Sungguh satu tuduhan yang amat berbahaya.

Setelah itu, kajian yang ditaja oleh AS itu menyimpulkan bahawa pembelajaran 'kitab kuning' di pesantren merupakan akar kekerasan dan seterusnya pemerintah AS telah mengusulkan agar Indonesia segera merubah kurikulum pendidikan agama, khususnya di pesantren.

ICG terus melaporkan pada Ogos 2003, laporan bertajuk "Jemaah Islamiyah in South East Asia: Damaged But Still Dangerous" (Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara: Hancur Tetapi Masih berbahaya).

Sekali lagi, ICG menuduh terdapat beberapa jaringan pesantren yang boleh  dikategorikan teroris dan Jamaah Islamiyah. Setelah itu,  beberapa orang telah ditangkap polis.

Hal ini menggambarkan betapa laporan ICG bukan sekadar laporan penelitian, tetapi terdapat 'the invisible hand' yang menggerakkannya.

Tidak aneh, bila kebanyakan anggota ICG berkaitan dengan CIA, secara halus menekan pemerintahan Indonesia. Caranya, dengan membuat 'penelitian' dan laporan hingga nampak seperti ilmiah. Kecurigaan ini ada asasnya. Apalagi apabila diketahui terdapat hubungan antara ICG dengan spekulator saham keturunan Yahudi, George Soros.

Pada tahun 2003. Soros pernah dianugerahkan 'ICG Founders Award' atas sumbangannya membantu ICG. Khabarnya, laporan-laporan ICG ini memang dikirimkan kepada parlimen AS untuk menjadi bahan rujukan keputusan dasar luar.

Pada 16 Jun 2008, ICG mengeluarkan laporan bertajuk 'Indonesia: Communal Tensions in Papua'.

Dalam laporan itu ditulis, "Konflik antara Muslim dengan Kristian di Papua meningkat apabila tidak dikelola dengan baik. Kaum Kristian merasakan kumpulan mereka 'diserang' oleh penghijrah kaum Muslim dari luar Papua dan mereka merasakan pemerintah menyokong aktiviti Islam untuk menekan minoriti bukan-Muslim. Kaum Muslim penghijrah itu melihat demokrasi dipergunakan menjadi ketidakadilan majoriti sehingga kedudukan mereka terancam. Padahal, Kristian Papua hanya sekadar mempedulikan penyerangan terhadap gereja-gereja di tempat mana pun di Indonesia dan khuatir terhadap apa yang mereka lihat sebagai Islamisasi. Di samping itu, Kristian Papua sedang menghadapi gerakan garis keras seperti Hizbut Tahrir. Seharusnya pemerintah di setiap peringkat nasional, wilayah dan daerah tidak memberikan sokongan kepada kelompok-kelompok keagamaan eksklusif."

Dalam laporan tersebut dapat dilihat terdapat usaha 'halus' untuk mengadu domba Muslim dengan Kristian serta memprovokasi pemerintah untuk menekan kelompok Islam.

Bahkan, pada bulan Julai 2008, dikeluarkan satu laporan tentang Surat Keputusan Bersama (SKB) Ahmadiyah dan konflik Papua. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahawa pergerakan ICG selalu berkait dengan disintegrasi(pemisahan), konflik, Islam radikal dan terorisme.

[SKB merujuk kepada Surat Keputusan Bersama yang dikeluarkan oleh Kerajaan, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung Indonesia. SKB dikeluarkan untuk memutuskan satu-satu isu penting yang menimbulkan kontroversi dalam negara]

Pengarah projek International Crisis Group untuk Asia Tenggara, Sydney Jones merumuskan, akan wujud perancangan kegiatan teroris di Indonesia. Tidak lain tidak bukan bermaksud untuk merayakan peristiwa berdarah, tragedi 11 September yang menggoncang Amerika Serikat tahun 2001 lalu.

Sidney dalam perbincangan khusus dengan media Persda Network menjelaskan, aksi teroris ini sama sekali tidak berkait dengan perancangan Indonesia yang akan menyambut pesta demokrasi, pilihanraya umum 2009.

Sidney kemudiannya meyakini, Selamat Kastari yang menghilangkan diri dari Singapura beberapa waktu lalu, kini berada di Indonesia (Kompas, 5/7/2008).

Bukan setakat itu,  pada 7 Julai 2008, ICG menerbitkan laporan bertajuk 'Indonesia: Implications of the Ahmadiyah Decree'.

ICG menulis: "Terbitnya SKB (Surat Keputusan Bersama) yang membataskan aktiviti Ahmadiyah menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok Islam garis keras (fundamentalis), memiliki sokongan politik kecil, telah mampu menggunakan teknik-teknik nasihat klasik untuk mempengaruhi dasar pemerintah."

[SKB Ahmadiyah merujuk kepada Surat Perwartaan/Keputusan Bersama Kerajaan Indonesia yang melarang penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatan mereka yang bertentangan dengan Islam. Dalam warta itu dinyatakan seandainya penganut Ahmadiyah menganggap diri mereka sebagai seorang Islam, mereka perlu meninggalkan pengakuannya terhadap nabi lain selain Nabi Muhamad SAW sebagai nabi terakhir]

Dalam kenyataan itu, Sydney Jones mengatakan: "Pemerintahan SBY telah membuat kekeliruan serius dengan mengundang Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2005 untuk membantu membentuk dasar kerajaan. Ini membuka pintu kepada kelompok-kelompok garis keras(fundamentalis), termasuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Forum Umat Islam (FUI), untuk mempengaruhi lebih besar dasar negara dalam bidang keagamaan dan menguatkuasakan undang-undang moral".

Laporan itu menulis bahawa di antara faktor paling penting adalah HTI yang bekerja bersama dengan FUI telah menggerakkan massa memimpin demontrasi anti pornografi pornoaksi, pelarangan Ahmadiyah, dan membatalkan kenaikan harga bahan bakar minyak(BBM).

Manakala, Front Pembela Islam (FPI) menjadi pihak keamanan dalam demontrasi FUI. Ini bermaksud HTI (yang mengaku tidak melakukan kekerasan) terlibat dalam gabungan dengan kelompok yang selama ini dikenali sebagai melakukan tindakan kekerasan.

ICG melaporkan, "Terdapat sokongan yang tidak masuk akal (the unthinking support) telah diberikan oleh pemerintahan SBY terhadap institusi-institusi seperti MUI dan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), satu organisai pengawas kepercayaan dan keyakinan pada masa Soeharto".

Untuk menekan pemerintah Indonesia, ICG menegaskan: "The result was a decree which is a setback for both Indonesia's image as a country that can stand up to Islamic radicalism and President Yudhoyono's image as a strong leader", (Hasilnya adalah SKB yang merupakan langkah terkebelakang terhadap citra Indonesia sebagai sebuah negara yang berhadapan dengan radikalisme Islam mahupun terhadap citra Presiden Yudhoyono sebagai seorang pemimpin kuat).

Berwaspada dengan ICG

Dilihat dari sejarahnya, dapat disimpulkan bahawa ICG mendatangkan bahaya kepada Indonesia. Terdapat beberapa 'tahap' yang dilakukan ICG selama ini.

Pertama, ICG lebih banyak memberikan maklumat tidak benar berkenaan Aceh dan Papua. Diakui atau tidak, mereka lebih pro kepada disintegrasi di kedua wilayah tersebut. Amat wajar apabila pimpinan utamanya di Indonesia, Sydney Jones diusir keluar hingga dua kali.

Kedua, ICG lebih memfokuskan isu Jama'ah Islamiyah. Tujuannya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat terorisme. Pengkalannya, di Indonesia turut terjebak dalam isu 'war on terrorism' ala Amerika.

Ketiga, kini ICG banyak mengikuti perkembangan gerakan-gerakan Islam yang ingin menjaga negara dan generasinya daripada terjebak ke lembah pornografi pornoaksi, aliran sesat Ahmadiyah, dan cengkaman liberalisasi dalam kes kenaikan harga minyak. ICG telah memberi label negatif kepada kelompok-kelompok Islam tersebut sebagai Islam radikal. Padahal, sejarah mencatatkan bahawa salah satu faktor penting pengukuh negara bangsa Indonesia adalah ajaran Islam dan umatnya.

Di samping itu, berdasarkan kenyataan-kenyataan terakhir ICG bertujuan untuk:

(1) melabel negatif kepada kelompok-kelompok Islam yang menentang Ahmadiyah dan pornografi pornoaksi, termasuk MUI, yang dianggap sebagai garis keras;

(2) Mewar-warkan kepada masyarakat terbuka bahawa terdapat sokongan politik kepada kelompok-kelompok Islam kecil;

(3) Secara khusus mengaitkan HTI sebagai kelompok yang berperanan penting dalam mempengaruhi politik di Indonesia. Namun, ICG berusaha untuk melabelkan 'HTI dekat dengan kekerasan' 

(4) memprovokasi pemerintah Indonesia dengan menyatakan sebagai 'telah membuat kekeliruan serius'. Ingat, pada tahun 2005 setidak-tidaknya terdapat dua peristiwa penting, iaitu cadangan Badan Koordinasi Pengawas Kepercayaan dan Keyakinan Masyarakat (Bakorpakem) yang melarang Ahmadiyah dan tuntutan umat Islam agar Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi-Pornoaksi disahkan;

(5) menekan pemerintah dengan menggunakan politik citra.

Kesimpulan

Organisasi asing walaupun berlabel organisasi penyelidikan, tetapi matlamat utama mereka adalah untuk kepentingan asing bukan kepentingan Indonesia. Kes ini pernah terjadi ke atas projek  Namru-2 yang menggunakan label penyelidikan kesihatan padahal hakikatnya intelijen angkatan laut Amerika Syarikat.

[Namru-2 merujuk kepada 'The US Naval Medical Reseach Unit Two' beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968. Pada awalnya Indonesia meminta bantuan Amerika untuk mencegah wabak penyakit dan satu perjanjian dibuat di antara Menteri Kesihatan Indonesia, Siwabessy dengan  Duta Besar AS, Francis Galbraith. Kesempatan itu digunakan oleh AS untuk menghantar angkatan laut berselindung di sebalik penyelidikan dan pencegahan penyakit. NAMRU -2 telah diberikan banyak kelonggaran, terutama kekebalan diplomatik kepada semua stafnya; dan keizinan untuk memasuki semua wilayah Indonesia]

Organisasi seperti ICG perlu diwaspada kerana mereka lebih banyak 'menyelidik' kelompok Islam dan memberikan maklumat yang tidak tepat, lalu menekan pemerintah Indonesia untuk bersikap keras kepada kelompok Islam itu.

Negara asing tetap ingin melemahkan Indonesia dengan menghentikan kebangkitan Islam. Salah satu caranya adalah dengan isu kekerasan dan terorisme.

AIDC menterjemah artikel swaramuslim. Artikel asal klik di sini
 

Aku menulis bukan kerana nama tetapi aku yakin aku benar - AIDC
http://anwaribrahimdotcom.blogspot.com
http://mindaaidc.wordpress.com


__._,_.___
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment